Jakarta– Jejak dugaan mega-korupsi dalam proyek sport center Hambalang mulai tampak. Bila sebelumnya memilih berkelit, akhirnya Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora), Andi Mallarangeng mengakui pihaknya pernah mengajukan anggaran sebesar Rp2,5 triliun. Namun, katanya, pengajuan tak pernah disetujui Kementerian Keuangan (Kemenkeu). Ajaib!
Marhaban Ya Ramadhan
June 08, 2012
New Google SEO
Bandung, Indonesia
Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sendiri baru akan melakukan gelar perkara, Jumat (8/6) hari ini. KPK juga memberi sinyal akan segera ada pemanggilan Ketua Umum Demokrat Anas Urbaningrum terkait kasus Hambalang. "Kita menunggu informasi dari tim penyelidiknya untuk menyampaikan kepada pimpinan kapan hari yang pas. Kita belum dapat informasi dari penyelidik kapan yang bersangkutan diperiksa," tutur Ketua KPK Abraham Samad di Jakarta, Jumat (8/5).
Sebelumnya Menteri Andi di gedung DPR mengatakan,“Kalau tidak salah, ada usulan itu dari Kementerian (Kemenpora)," kata Andi di gedung parlemen, Jakarta, Kamis (7/6).
Ia menjelaskan permohonan Rp2,5 triliun itu diajukannya pada 2010, tetapi tidak pernah disetujui Kemenkeu. Kemudian ia mengetahui sesuai persetujuan dari multiyear Kemenkeu, anggaran yang disetujui untuk proyek Hambalang menjadi Rp1,2 triliun.
Meksi bersikukuh tak terlibat tapi Menteri Andi mengaku siap mundur. Sekadar mengingatkan akibat namnya terseret di pusaran korupsi Hambalang, kolega separtinya di Demokrat mendesaknya mundur.
Terpisah Ketua Komisi X DPR Agus Hermanto. Menurutnya, usulan dana proyek Hambalang hanya disetujui sekitar Rp1,175 triliun. "Pengajuan memang sekitar Rp2 triliun itu, tetapi pelaksanaannya yang saya ketahui hanya itu," jelasnya.
Terpisah Ketua Komisi X DPR Agus Hermanto. Menurutnya, usulan dana proyek Hambalang hanya disetujui sekitar Rp1,175 triliun. "Pengajuan memang sekitar Rp2 triliun itu, tetapi pelaksanaannya yang saya ketahui hanya itu," jelasnya.
Sebelumnya, angka Rp2,5 triliun itu muncul pertama kali dalam surat jawaban dari Kemenpora atas permintaan Komisi X DPR. Surat tersebut dikirimkan Sekretaris Kemenpora ketika itu, Wafid Muharram, pada 2010.
Dalam surat itu, Kemenpora menyampaikan rincian usulan penambahan anggaran untuk kegiatan prioritas yang belum terakomodasi dalam daftar isian pagu anggaran (DIPA) Kemenpora Tahun 2010.
Dalam penyelidikan proyek Hambalang, KPK sudah memeriksa lebih dari 50 orang, di antaranya para petinggi PT Adhi Karya, Kepala Badan Pertanahan Nasional Joyo Winoto, dan anggota DPR dari Partai Demokrat Ignatius Mulyono.
Perusahaan Koper
Kejanggalan proyek Hambalang juga makin menguat karena perusahaan pemenang tender PT Putra Utara Mandiri, dikabarkan hanya perusahaan ‘koper’ (perusahaan dengan modal akta saja,Red). Lebih aneh lagi, Direktur PT Putra Utara Mandiri, Reinhard Nainggolan, menyatakan tak tahu perusahaan miliknya ikut menggarap proyek Hambalang. "Saya malah baru tahu dari Anda," katanya dikutip drai tempo.co di Rumah Tahanan Serang, Banten.
Kejanggalan proyek Hambalang juga makin menguat karena perusahaan pemenang tender PT Putra Utara Mandiri, dikabarkan hanya perusahaan ‘koper’ (perusahaan dengan modal akta saja,Red). Lebih aneh lagi, Direktur PT Putra Utara Mandiri, Reinhard Nainggolan, menyatakan tak tahu perusahaan miliknya ikut menggarap proyek Hambalang. "Saya malah baru tahu dari Anda," katanya dikutip drai tempo.co di Rumah Tahanan Serang, Banten.
Reinhard saat ini ditahan oleh Kejaksaan Tinggi Banten sebagai tersangka kasus korupsi pengadaan alat laboratorium. Ia adalah satu dari ketiga orang yang dianggap bertanggung jawab atas perkara pembelian perlengkapan laboratorium Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, yang didanai negara Rp 49 miliar.
Jejak PT Putra di proyek Hambalang terlacak dari pengadaan sarana untuk pendidikan dan pelatihan olahraga di Sentul, Bogor, itu. Menurut Koordinator Investigasi dan Advokasi Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran, Uchok Sky Khadafi, proyek yang dikerjakan senilai Rp 500 miliar. Pengalokasiannya, Rp 400 miliar untuk pembangunan fisik dan sisanya Rp 100 miliar buat pengadaan sarana.
Pada 7 Oktober 2011, Kemenpora melakukan pelelangan umum pertama pengerjaan proyek tersebut. Lelang itu untuk paket pekerjaan pengadaan peralatan sport science dengan nilai harga perkiraan sendiri (HPS) Rp 79,9 miliar, di luar proyek fisik.
Menurut Uchok, pemenangnya adalah PT Putra Utara Mandiri. Perusahaan ini memberikan nilai penawaran Rp 76,2 miliar. “Ini skandal kedua di Kemenpora setelah proyek Wisma Atlet Palembang,” ujarnya.
Berdasarkan penelusuran, PT Putra Utara Mandiri masih menumpang alamat di kawasan Sentral Kramat Blok A-14, Senen, Jakarta Pusat. Tempat ini merupakan kantor hukum yang juga disewakan ke beberapa perusahaan, seperti PT Ribka Putri Sejahtera dan PT Jasa Putra Abadi.
Sumber mengatakan PT Putra Utara pernah dipinjam oleh lelaki berinisial N. Masih kata sumber itu, Reinhard tidak memiliki kantor dan modal usaha. Ia hanya menyewakan nama perusahaannya kepada orang lain.
"Istilahnya, itu perusahaan koper, tidak punya kantor, tapi cuma modal akta doang," ujar sumber tersebut.
Proyek Hambalang yang dikerjakan PT Adhi Karya dan PT Wijaya Karya sebagai kontraktor juga sedang diusut KPK. Perusahaan milik negara ini mensubkontrakkan kepada belasan perusahaan swasta, di antaranya PT Dutasari Citralaras. Kesimpulan penyelidikan skandal proyek Hambalang akan diputus pada Jumat ini.
Proyek Hambalang yang dikerjakan PT Adhi Karya dan PT Wijaya Karya sebagai kontraktor juga sedang diusut KPK. Perusahaan milik negara ini mensubkontrakkan kepada belasan perusahaan swasta, di antaranya PT Dutasari Citralaras. Kesimpulan penyelidikan skandal proyek Hambalang akan diputus pada Jumat ini.
Ketua KPK Abraham Samad mengatakan nasib penanganan proyek itu akan diputuskan dalam ekspose kasus. "Kami lihat perkembangannya, apakah kasus Hambalang bisa ditingkatkan dari penyelidikan ke penyidikan, atau perlu pendalaman,” katanya di kantornya kemarin.
Abraham menepis anggapan bahwa lamanya KPK melakukan penyelidikan disebabkan oleh adanya hambatan dari luar. Menurut dia, lembaganya sekadar berhati-hati karena tidak punya wewenang menghentikan perkara. "Kami tak punya target, tapi berusaha sekeras mungkin,” ujarnya.ins,did,fan
http://youtu.be/jLGX-tJGOR0
Marhaban Ya Ramadhan
March 09, 2012
New Google SEO
Bandung, IndonesiaBagaimana pandangan kaum muda muslim Indonesia dan Malaysia terhadap negara, keluarga dan komunitas mereka?
Seberapa religiuskah mereka?
Apa pendapat mereka mengenai poligami dan Hukum Syariat?
Apakah mereka peduli dengan politik dan demokrasi?
Bagaimana mereka mengisi waktu luang mereka?
Seberapa religiuskah mereka?
Apa pendapat mereka mengenai poligami dan Hukum Syariat?
Apakah mereka peduli dengan politik dan demokrasi?
Bagaimana mereka mengisi waktu luang mereka?
Sebuah survey yang diprakarsai oleh Goethe-Institut dan
Friedrich-Naumann-Stiftung für die Freiheit memperoleh jawabannya dari sekitar 2,500 kaum muda muslim dengan range umur 15-25 tahun. Mereka disurvei oleh Lembaga Survei Indonesia (LSI) dan Merdeka Center untuk Penelitian Opini di Malaysia.
Friedrich-Naumann-Stiftung für die Freiheit memperoleh jawabannya dari sekitar 2,500 kaum muda muslim dengan range umur 15-25 tahun. Mereka disurvei oleh Lembaga Survei Indonesia (LSI) dan Merdeka Center untuk Penelitian Opini di Malaysia.
Hasil tersebut – dengan focus pada anak muda Indonesia – dipresentasikan kepada pers dalam acara Konferensi Pers tanggal
14 Juni 2011, pukul 10.30 WIB, di GoetheHaus Jalan Sam Ratulangi 9-15, Jakarta
Download Hasil selengkapnya:
Country Report Muslim Youth Survey 2010_14Juni2011.pdf
Country Report Muslim Youth Survey 2010_14Juni2011.pdf
الْحَمْدُ ِللهِ الَّذِيْ وَفَّقَ مَنْ شَاءَ مِنْ عِبَادِهِ لِحِفْظِ حُدُوْدِهِ ، وَأَعَانَهُمْ بِمَنِّهِ وَفَضْلِهِ عَلَى اْلقِيَامِ بِحُقُوْقِهِ ، حَفِظُوْا حُدُوْدُ اللهِ فَحَفِظَهُمُ اللهُ ، وَاتَّجَهُوْا بِقُلُوْبِهِمْ إِلَى اْلإِسْتِعَانَةِ بِرَبِّهِمْ فَأَعَانَهُمُ اللهُ .عَلِمُوْا أَنَّ اْلأَمَّةَ لَوِاجْتَمَعُوْا عَلَى أَنْ يَنْفَعُواا لْعَبْدَ بِشَيْءٍ لَمْ يَنْفَعُوْهُ إِلاَّ بِشَيْئٍ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ لَهُ، فَعَلَّقُوْا رَجَاءَهُمْ بِهِ، وَأَيْقَنُوْا أَنَّ اْلأَمَّةَ لَوِاجْتَمَعُوْا عَلَى أَنْ يَضُرُّوااْلعَبْدَ بِشَيْئٍ لَمْ يُضِرُّوْهُ إِلاَّ بِشَيْئٍ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ عَلَيْهِ ، فَاعْتَمَدُوْا عَلَيْهِ، وَنَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ ، وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ، وَلَهُ الْحَمْدُ، وَبِيَدِهِ مَلَكُوْتُ السَّمَوَاتِ وَاْلأَرْضِ ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْئٍ قَدِيْرٌ ، وَنَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ ، اْلبَشِيْرُ النَّذِيْرُ ، السِّرَاجُ الْمُنِيْرُ ، صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى أَلِهِ، وَأَصْحَابِهِ وَالتَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَىْ يَوْمِ الدِّيْنِ، وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا
Ma’asyiral muslimin rahimani wa rahimakumullah,
Kita telah mengetahui, bahwa Allah memerintahkan kepada kita untuk beribadah kepada-Nya. Setelah itu Allah Subhanahu wa Ta’ala akan membalas pahala amal ibadah, sesuai dengan tingkatannya. Namun, kita perlu menyadari, bahwa amal ibadah kita, tidak semua akan diterima. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menetapkan persyaratan-persyaratan yang harus dipenuhi. Jika amal seseorang telah memenuhi persayaratan itu, berarti amalnya akan diterima Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan jika kurang, maka akan ditolak. Sebagai seorang muslim yang menghendaki agar amal ibadahnya diterima dan mendapatkan ganjaran dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka kita harus berusaha semaksimal mungkin untuk mengetahui dan selanjutnya memenuhi persyaratan itu. Sebab, apalah artinya amal banyak, namun tidak mendatangkan keridhaan Allah Subhanahu wa Ta’ala?! Bahkan justru sebaliknya, menyebabkan murka Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sia-sialah kita dalam beramal, kalau pada akhirnya akan ditolak dan dikembalikan kepada kita.
Ma’asyiral muslimin rahimani wa rahimakumullah,
Dalam Alquran Surat Al-Furqan, Allah telah berfirman,
وَقَدِمْنَآ إِلَى مَاعَمِلُوا مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنَاهُ هَبَآءً مَّنثُورًا
“Dan Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan.” (QS. Al-Furqan: 23)
Ibnu Katsir menjelaskan, ini merupakan kejadian pada hari kiamat. Yaitu pada saat amal-amal dihisab oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Melalui surat ini Allah Subhanahu wa Ta’ala memberitahukan, bahwasanya amalan-amalan orang kafir dan musyrik tidak menghasilkan apa-apa, berapa pun banyaknya. Karena amalan-amalan mereka itu tidak memenuhi persyaratan yang telah ditetapkan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Belum cukupkah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala tersebut mendorong kita untuk mempelajari syarat diterimanya amal?
Ma’asyiral muslimin rahimani wa rahimakumullah,
Amal ibadah akan diterima Allah Subhanahu wa Ta’ala, jika memenuhi dua syarat. Pertama, Ikhlas. Artinya, beribadah hanya kepada-Nya saja dan karena Allah Subhanahu wa Ta’ala. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Sesungguhnya Allah tidak menerima satu amalan, kecuali amalan yang diikhlaskan untuk-Nya dan untuk mencari wajah-Nya.” (HR. An-Nasa’i)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,
إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَاتِ
“Sesunguhnya amal itu tergantung niatnya.”
Dalam hadis lain,
إِنَّ اللَّهَ لَا يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ
“Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada bentuk rupa dan harta kalian, akan tetapi Allah melihat kepada hati dan amal-amal kalian.” (HR. Muslim)
Masalah keikhlasan ini berkaitan dengan hati. Dan masalah hati tidak bisa dipisahkan dengan niat. Perkara ini terkadang banyak diremehkan oleh manusia, sehingga merasa tidak perlu lagi mengoreksi hati. Tidakkah kita mengetahui, bahwa masalah ini dianggap besar oleh para ulama salaf? Tengoklah yang dikatakan oleh Sufyan Tsauri, “Tidaklah aku mengobati sesuatu yang lebih berat daripada niatku. Karena dia berbolak-balik.”
Ma’asyiral muslimin rahimani wa rahimakumullah,
Itulah pandangan ulama salaf dalam masalah hati. Masalah hati sangat mereka perhatikan ketika beramal. Sehingga dalam sejarah perjalanan hidup mereka, kita mendapati berbagai macam usaha yang mereka lakukan untuk menjaganya, dan menutup pintu masuk setan yang hendak membelokkannya. Ingatlah, setan merupakan musuh orang-orang beriman. Dia tidak akan pernah tinggal diam. Dia akan selalu berusaha dengan segala cara untuk menggoda manusia, sehingga rusaklah amal.
Ma’asyiral muslimin rahimani wa rahimakumullah,
Syarat kedua agar diterimanya amal seseorang, ialah ittiba. Artinya, amal ibadah itu harus sesuai dengan tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliaulah utusan Allah yang diperintahkan untuk menyampaikan risalah-Nya. Sebagai utusan-Nya, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam merupakan manusia yang paling mengetahui tentang risalah-Nya. Dan semuanya sudah disampaikan oleh beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka sudah seharusnya kaum muslimin mengikuti beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah berfirman,
قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ اللهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ
“Katakanlah, ‘Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.’ Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Ali Imran: 31)
Ma’asyiral muslimin rahimani wa rahimakumullah,
Demikian itulah dua syarat yang disimpulkan oleh para ulama dari banyak dalil, baik dari Alquran maupun sunah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kedua syarat inilah yang akan menentukan amal kita diterima ataukah ditolak. Jika salah satunya tidak terpenuhi, maka tidak akan diterima. Jika persyaratan yang tidak terpenuhi itu syarat yang pertama, maka si pelaku bisa terjerembab ke dalam lembah kesyirikan, wal’iyadzubillah. Sedangkan jika yang tidak terpenuhi itu syarat yang kedua, maka si pelaku masuk ke dalam perbuatan bid’ah yang sesat.
Ma’asyiral muslimin rahimani wa rahimakumullah,
Imam Ibnul Qayim mengatakan, “Seseorang tidak akan mungkin bisa merealisasikan iyyaka na’budu (maksudnya peribadatan kepada Allah), kecuali dengan dua dasar. Yaitu ikhlas dan mutaba’ah (mengikuti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam).
Fudhail Bin Iyadh, menjelaskan makna ayat,
الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلاً وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ
“Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (QS. Al Mulk: 2)
Maksud kalimat ahsanu amalan ialah yang paling ikhlas dan paling benar amalnya. Orang-orang bertanya, “Wahai Abu Ali. Apa yang dimaksud dengan yang paling ikhlas dan paling benar amalnya?” Beliau menjawab, “Sesungguhnya amal itu, jika dikerjakan ikhlas karena Allah akan tetapi tidak sesuai dengan tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka tidak akan diterima Allah Subhanahu wa Ta’ala. Demikian juga jika amal itu benar sesuai dengan yang diajarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, akan tetapi tidak ikhlas, maka tidak diterima Allah sampai amal tersebut memenuhi dua syarat, yaitu ikhlas dan benar sesuai dengan yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (Hujajul Qawiyyah, Hal. 12)
Ma’asyiral muslimin rahimani wa rahimakumullah,
Amalan-amalan yang telah memenuhi kedua syarat tersebut, dinamakan dengan amal shalih. Allah telah menjelaskan dalam firman-Nya,
فَمَنْ كَانَ يَرْجُوا لِقَآءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلاً صَالِحًا وَلاَيُشْرِكُ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا
“Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Rabbnya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang shalih dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadat kepada Rabb-nya.” (QS. Al-Kahfi: 110)
Juga dalam firman-Nya,
بَلَى مَنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُ لِلَّهِ وَهُوَ مُحْسِنُ فَلَهُ أَجْرُهُ عِندَ رَبِّهِ وَلاَخَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلاَهُمْ يَحْزَنُونَ
“(Tidak demikian) dan bahkan barangsiapa yang menyerahkan diri kepada Allah, sedang ia berbuat kebajikan, maka baginya pahala pada sisi Rabb-nya dan tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (QS. Al-Baqarah: 112)
Ma’asyiral muslimin rahimani wa rahimakumullah,
Sebagai seorang muslim, kita harus berusaha untuk mewujudkan kedua persyaratan tersebut ketika beramal. Rasanya sulit bagi kita untuk mewujudkannya, kecuali dengan senantiasa belajar dan belajar lagi. Dan alhamdulillah, pada saat ini kita tidak terlalu kesulitan mempelajari agama kita. Berbagai media telah dimanfaatkan oleh para dai untuk membantu kita dalam memahami ajaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian bagaimanakah kita sekarang. Maukah kita mempelajari agama ini untuk memperbaiki amaliah kita ataukah tidak? Mudah-mudahan Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan kepada kita kemudahan untuk mempelajari, memahami dan selanjutnya mengamalkan ilmu yang sudah kita terima.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِيْ الْقُرْانِ الْعَظِيْمِ , وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلأَيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ , أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ الله َلِيْ وَلَكُمْ وَلِكَافَةِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ , فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
KHUTBAH KEDUA
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ وَلَهُ الْحَمْدُ فِي الْآخِرَةِ وَهُوَ الْحَكِيمُ الْخَبِيرُ
Dalam khutbah pertama, telah saya jelaskan tentang dua syarat diterimanya suatu amal. Maka dalam khutbah yang kedua ini ingin kami sampaikan pembagian manusia berdasarkan kedua syarat tersebut.
Salah seorang ulama besar Ibnul Qayyim Al Jauzi berkata, “Berdasarkan kedua syarat yang agung ini, manusia terbagi menjadi empat golongan.
Ahlul ikhlas dan muttaba’ah (orang yang ikhlas dan mengikuti). Merekalah ahlu iyyaka na’budu yang hakiki. Sehingga semua amal-amal mereka, pembicaraan, pemberian, pelarangan, kecintaan serta kebencian mereka, semuanya karena Allah Subhanahu wa Ta’ala. Muamalah mereka lahir-batin ikhlas karena Allah Subhanahu wa Ta’ala semata. Demikian juga amal-amal serta ibadah-ibadah mereka, sesuai dengan perintah Allah, sesuai dengan apa yang dicintai dan diridhai-Nya.
Inilah amalan yang akan diterima Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan untuk tujuan ini jualah Allah menguji hambanya dengan kematian dan kehidupan, Allah tidak akan menerima suatu amal, jika tidak dilandasi keikhlasan karena Allah dan sesuai dengan ajaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Amal yang tidak sesuai dengan kedua syarat tersebut akan dikembalikan kepada pelakunya bagaikan debu yang berhamburan. Semua amal yang tidak mengikuti sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tidak akan menghasilkan kebaikan apa-apa, bahkan akan menambah semakin jauh dari Allah.
Ma’asyiral muslimin rahimani wa rahimakumullah,
Itulah golongan pertama yang disebutkan oleh Ibnul Qayim, sebuah golongan yang benar dalam beramal dan akan mendapatkan balasan baik dari Allah. Semoga Allah menjadikan kita termasuk golongan yang pertama ini.
Kemudian beliau menyebutkan tiga golongan lainnya yang menyimpang yaitu,
- Orang yang tidak ikhlas dan juga tidak mengikuti tuntunan. Mereka ini seperti orang-orang yang mencari nama dengan melakukan perbuatan-perbuatan yang disyariatkan. Mereka inilah sejelek-jelek makhluk dan makhluk yang paling dimurkai.
- Orang yang beramal ikhlas karena Allah, tetapi tidak sesuai dengan tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Seperti ahli ibadah yang tidak tahu apa-apa, atau siapa saja yang beribadah kepada Allah dengan cara yang tidak pernah disyari’atkan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
- Orang yang beramal sesuai dengan tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, akan tetapi tidak ikhlas karena Allah. Misalnya seseorang beramal mengikuti tuntunan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, agar mendapatkan pujian, berjihad agar disebut sebagai pemberani, berhaji agar dipanggil haji, dll. Secara zhahir kelihatannya amal shalih, padahal sesungguhnya bukan amal shlaih. (Hujajul Qawiyyah, Hal. 13)
Ma’asyiral muslimin rahimani wa rahimakumullah,
Setelah mengetahui empat golongan manusia tadi, maka marilah kita mawas diri, masuk ke dalam golongan manakah kita ini? Barangsiapa yang memiliki ciri-ciri golongan pertama, yaitu ikhlas dalam beramal dan mengikuti sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka hendaklah ia bersyukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala atas karunia-Nya tersebut, serta berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar senantiasa diberikan kekuatan untuk istiqomah. Dan agar pendiriannya ditetapkan berada di atas agama yang benar ini. Sebaliknya barangsiapa yang mendapati pada dirinya ciri-ciri golongan kedua dan seterusnya, maka hendaklah segera bertaubat kepada Allah dengan sebenar-benar taubat, sambil senantiasa berdoa agar mendapat taufik dan hidayah-Nya.
Demikianlah khutbah yang bisa kami sampaikan. Semoga bermanfaat bagi kita. Yang benar semuanya dari Allah, dan yang salah semuanya dari sisi saya dan setan.
باَرَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِيْ القُراْنِ الْعَظِيْمِ , وَنَفَعَنِيْ وَإِياَّكُمْ بِمَافِيْهِ مِنَ اْلأَياَتِ وَالذِّكْرِالْحَكِيْمِ , أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا واسْتَغْفِرُاللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِكَافَةِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَتْبٍ , فاَسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَالْغَفُوْرُالرَّحِيْمُ
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ, اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ
رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَِلإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِاْلإِيمَانِ وَلاَ تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلاَّ لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَؤُوفٌ رَحِيمٌ
رَبَّنَا لا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبَّنَا وَلا تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْراً كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِنَا رَبَّنَا وَلا تُحَمِّلْنَا مَا لا طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلاَنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ
وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ, وَأَقِمِ الصَّلاَةَ
Marhaban Ya Ramadhan February 02, 2012 New Google SEO Bandung, Indonesia
Sosiologi sejak awal memiliki perhatian khusus pada masalah agama, yang kemudian di belakang hari dikenal dengan kajian sosiologi agama. Karya Ibn Khaldum (Muqaddimah) sebenarnya dapat dikategorisasikan sebagai sosiologi agama di era klasik. Emile Durkheim dan Marx Weber termasuk sosiolog klasik di Barat yang secara khusus menyajikan kajian sosiologi agama, di samping Karl Marx dalam tema yang terbatas. Para sosiolog ternama lainnya di era mutakhir yang secara khusus menyajikan sosiologi agama ialah Bryan Wilson, Peter Berger, Roland Robertson, Bryan S. Turner, Robert N. Bellah, dan lain-lain.
Di Indonesia belum banyak sosiolog yang menyajikan sosiologi agama secara spesifik, pada umumnya karya-karya tentang agama khususnya tentang Islam, lebih kuat tekanannya pada studi Islam (Islamic studies, dirasat Islamiyah), kecuali karya-karya disertasi/buku dengan mengambil fokus kajian aspek agama. Karena itu, sejauh pengamatan penulis, kajian tentang sosiologi agama atau bahkan sosiologi agama itu sendiri, di negeri ini tampaknya masih merupakan wilayah kajian yang masih terbatas. Padahal, masalah agama dengan dinamika kehidupan pcmeluknya merupakan persoalan yang penting dan krusial dalam kehidupan masyarakat Indonesia, yang mernerlukan perspektif sosiologi agama yang lebih spesifik atau terfokus, di luar kajian studi Islam.
Rintisan Prof.H.A.Mukti Ali mengcnai agama dan masyarakat sebenarnya dapat dijadikan studi awal dan titik-tolak untuk sosiologi agama di Indonesia, kendati masih bersifat gabungan antara studi Islam dan sosiologi agama (Islam). Karya-karya Atho Mudzhar (Pendekatan Studi Islam dalam Teori dan Praktek), Amin Abdullah (Islamic Studies), UIN Yogyakarta dan Jakarta, LIPI, UGM, dan Balitbang Depag R.l. dapat dijadikan masukan untuk pengembangan sosiologi agama. Penulis belum tahu persis bagaimana perkcmbangan kajian sosiologi agama di lingkungan UIN/IAIN yang dalam dasawarsa terakhir banyak memasuki wilayah sosiologi dan ilmu-ilmu sosial pada umumnya, perlu dilakukan penelitian khusus mengenai masalah tersebut.
Studi Islam sendiri sangatlah penting, namun memerlukan perspektif yang lebih empirik dengan pengembangan metodologi yang bersifat multi-perspcktif dan multi-analisis, mengingat fenomena agama dan kehidupan beragama sangatlah kompleks. “Islamic studies” atau “Dirasat Islamiyah” terutama dalam perspektif yang selama ini dikembangkan di dunia akadamik perguruan tinggi Islam memang Iebih memusatkan perhatian kajiannya pada aspek-aspek khusus keagamaan dan ajaran Islam atau dunia pemikiran Islam. Dalam acuan di Departemen Agama, kajian tersebut meliputi aspek-aspek studi al Qur’an dan Hadis (Ulumul Qur’an dan Ukumul Hadis), pemikiran dalam Islam (Kalam, Falsafah, Tasawuf, Aliran Modern), Fikih/Hukum Islam dan Pranata Sosial (Fikih Islam, UsuI Fikih, Pranata Sosial, Ilmu Falak), Sejarah dan Peradaban Islam (Sejarah lsIam dan Peradaban Islam), Bahasa (Bahasa arab dan Sastra Arab). Pendidikan Islam (Pendidikan dan Pengajaran Islam, Ilmu Nafsil Islamy), Dakwah lslamiyah (Dakwah Perbandingan Agama), dan Perkembangan Pemikiran Modern di Dunia Islam (Hukum, Politik, Sosial, Ekonomi) .
Namun menarik pula bahwa dalam kurun tcrakhir “Islamic Studies” juga mengalami pergeseran paradigma (shifting paradigm) antara wilayah “keagamaan” dan “keilmuan” serta antara “normativitas” dan “historisitas” , bahkan muncul tuntutan adanya “integrasi” atau “interkoneksitas” dengan ilmu-ilmu sosial dan berbagai paradigma lain . Artinya studi Islam pun mengalami perkembangan yang pesat, yang mempertemukannya dengan studi-studi agama di wilayah sosiologi, antropologi, fenomenologi, psikologi, ekonomi, selain area teologi. Tetapi memang memerlukan “the body of knowledge” yang jelas tentang posisi studi agama (khususnya studi Islam) dibandingkan pendekatan-pendekatan kajian agama berbasis sosiologi, antropologi, dan sebagainya. Ada keperluan pula dalam studi agama, yakni memberikan pemahaman yang luas dan mendalam bagi pemeluk agama tentang agamanya, sehingga agama benar-benar menjadi rahmatan lil ‘alamin di mana pun agama dan umat beragama itu hadir.
Marhaban Ya Ramadhan February 02, 2012 New Google SEO Bandung, Indonesia













