J1

SSTL 1.

J2

SSTL 2.

J3

SSTL 3.

J4

SSTL 4.

J5

SSTL 5.

Minggu, 22 Februari 2015

Petunjuk Inventarisasi Penguasaan Tanah Leluhur di Kawasan Hutan




Base Camp Sidikalang. Peraturan Bersama Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia, Menteri Kehutanan Republik Indonesia, Menteri Pekerjaan Umum Republik Indonesia, dan Kepala Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia Nomor 79 Tahun 2014, PB.3/MENHUT-II/2014, 17.PRT/M/2014, 8/SKB/X/2014 tentang Tata Cara Penyelesaian Penguasaan Tanah yang berada di dalam Kawasan Hutan.

Deputian Bidang Pengaturan dan Pengendalian Pertanahan Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Peratanahan Nasional menyusun Petunjuk Pelaksanaan (Juklak) Inventarisasi Penguasaan, Pemilikan, Penggunaan dan Pemanfaatan Tanah dalam kawasan hutan sebagai pedoman dan arahan pelaksanaan Inventarisasi Penguasaan, Pemilikan, Penggunaan dan Pemanfaatan Tanah (IP4T) oleh Tim IP4T dalam rangka penyelesaian penguasaan tanah yang berada di dalam kawasan hutan. 


 Untuk lebih jelasnya ditautkan klik disini

Sabtu, 21 Februari 2015

HTTP 2 di Sajikan Lebih Cepat



Percepetan  Lansiran dari situs The Next Web HTTP// mengalami pembaharuan merupakan keniscayaan yang teraktual akan menjadi HTTP 2. Gawean IETF HTTP Working Group yang mengerjakan protokol HTTP baru untuk world wide web semakin nyata dan terealisasi.

Tujuan dari kompetensi teknis, persyaratan untuk implementasi sebelum dan pengujian, dan kebutuhan untuk mengizinkan semua pihak yang berkepentingan untuk komentar semua membutuhkan waktu dan tenaga. Di sisi lain, perkembangan pesat sekarang ini teknologi jaringan menuntut pengembangan tepat waktu standar. 

Standar Internet Proses ini dimaksudkan untuk menyeimbangkan tujuan-tujuan yang saling bertentangan. Proses ini diyakini sesingkat dan sesederhana mungkin tanpa mengorbankan keunggulan teknis, pengujian menyeluruh sebelum penerapan standar, atau keterbukaan dan keadilan. 

Mark Nottingham adalah salah satu kelompok Kerja IETF HTTP dan Seorang Anggota dari TAG W3C sebagaimana dalam rilis di Mnot's Blognya Spesifikasi yang ditetapkan itu saat ini sudah diajukan ke RFC (request For Comment) Editor untuk melalui proses editorial sebelum akhirnya nanti dipublikasi sebagai standar HTTP yang baru.

Sebelum menjadi sebuah dokumen RFC, sebuah dokumen yang diajukan akan dianggap menjadi draf Internet (Internet draft), yang merupakan sebuah dokumen yang umumnya dikembangkan oleh satu orang pengembang di dalam kelompok kerja IETF atau IRTF. Sebagai contoh, kelompok kerja IPv6 (IPv6 working group) mengkhususkan usahanya hanya untuk mengembangkan standar-standar yang akan digunakan pada IPv6protokol calon pengganti IPv4. Setelah beberapa waktu, dokumen tersebut akan diulas dan akhirnya harus diterima secara konsensus oleh para penguji. Dan setelah diterima, maka IETF pun menerbitkan versi final dari draf Internet tersebut menjadi sebuah RFC dan kemudian memberikan nomor urut kepadanya, yang disebut sebagai RFC Number.

Standar baru tersebut membawa perbaikan kepada inti dari teknologi web, seperti waktuload yang lebih cepat, koneksi yang bertahan lebih lama, item yang bisa dikirim lebih cepat, dan server push.

Maka kita tunggu kehadirannya lebih cepat lebih baik.





Sabtu, 31 Januari 2015

“Teknik Pemecahan Masalah”


Kali ini saya ingin berbagi mengenai teknik memecahkan masalah. Teknik pemecahan masalah adalah sebagai proses menyelesaikan suatu permasalahan atau kejadian, upaya untuk mengambil pilihan yang terbaik yang mendekati kebenaran.
Sering kita melihat suatu permasalahan antara keinginan dan harapan tidak singkron maka perlu kita mencari penyebabnya bahkan kita mesti menelusuri secara ajeg. Bahkan dengan bantuan  mencari pemecahan masalah dilakukan dengan mesin pencarian  google dengan kata kunci “Teknik Pemecahan Masalah dan  “Problem Solving”
Isi pengantar diatas adalah informasi dan paling penting artikel Pemecahan masalah bahkan sering juga dimaksud dengan mengambil suatu Keputusan. Mengabil suatu solusi bahkan win win solusi tentunya mengarah kepada keputusan yang tebaik sehingga mengurangi masalah bahkan menghilangkan permasalahannya.
Dua paragraf diatas adalah informasi pendukung mengenai Teknik Pemecahan Masalah terbaru.  
Pertama skema dibawah ini adalah sangat strategis pada ujung tombak penyelesaian pemecahan masalah yang kerab diminati sebagai informasi di bawah artikel ini menjelaskan tehnik Pemecahan Masalah atau sering disebut Problem solving.
Mengapa inti artikel ini menjadi penting?
Paragraf diatas adalah inti artikel mengenai subjek Pemecahan masalah sebagai pengambil keputusan efektif tentunya tidak mudah  seseorang akan mengambil pertimbangan terbaik tentunya menelisiknya dengan beragam elemen yang komplementer atau secara filosofistis. Perbedaan filosofis ini adalah hal yang perlu disamakan sehingga tidak mengalami kesulitan dalam mengambil keputusn yang tepat.
Betapa pentingnya kita melihat kondisi atau lingkungan cakupan yang spesifik secara fisikis dan juga sosial baik secara eksternal maupun internal perlu kita perhatikan baik itu dilingkungan keluarga, perusahaan, sekolah dan disituasi dimana anda berada.
Sebagai Pimpinan sejatinya mengambil keputusan berdasarkan hasil dari penggalian informasi yang akurat dan terhangat serta paling mutkhir atau tranding topik. Hal yang di kehendaki dalam artikel Teknik Pemecahan Masalah adalah Bagaimana seorang pengambil keputusan melengkapinya dengan terbentuknya Bank Persoalan  atau Data base yang akurat terpercaya.
Secara keseluruhan dalam kehidupan kita tentunya dihadapkan permasalahan permasalahan yang kompleks  bahkan sangat rumit di lingkungan masing masing. Kita semestinya jangan berlarut-larut dalam bergelimangnya permasalah tersebut tentunya adalah suatu keberuntungan anda di mudahkan mesin pencarian google menemukan artikel “ Teknik Pemecahan Masalah tebaru “ini.
Empat Tahapan yang perlu di jalankan menurut Benjamin B.T dan Charles H, Kepner yakni: 


  1. Analysis Situasi
  2. Analysis  Masalah
  3. Decition Analysis
  4. Potential Analysis Problem
Analysis Situasi yakni mengidentifikasi, mengklarifikasi, prioritas penanganan sejak dini, mana yang ditunda serta mana yang menimbulkan permasalahan. Kita hendaknya menentukan tujuan mana yang menjadi target utama jangan di campur campur. Mengumpulkan fakta-fakta dengan catatan yang relevan kebiasaan yang berlaku, pendapat dan perasaannya. 

Lalu mempertimbangkan fakta dan tentukan kelanjutan yang harus diambil dengan menghubungkan fakta yang satu dengan yang lain, pelajari pengaruhnya dan menentukan apa tindakan yang semestinya diambil, hal ini kita hendaknya bersikap bijaksana. Tentukan siapa yang mengambil keputusan secara menyeluruh atau sebagian tertentu saja. Adalah bijaksana juga kita pertimbangkan siapa-siapa yang perlu diberi informasi tentang keputusan atau tindakan yang diambil. Lalu tentukan waktu yang tepat untuk di ekskusi terakhir adalah periksa hasil pelaksanaan dengan mengevaluasinya apakah tujuan tercapai dan pelajari perubahan sikap dan hubungan antara satu pihak dengan pihak lain.

Sementara analisis keputusan di poin kedua  kita hendaknya membendakan apa yang harus di capai dan dengan apa ingin di capai pencapaiannya. Skala prioritas adalah “ penting” dan juga alternative terbaik dalam mengimpementasikan sehingga optimal.



Senin, 26 Januari 2015

" ISLAMIC EDUCATION AND INDOCTRINATION"




A.Deskripsi Buku

Penulis                 :         Charlene Tan
Kategori               :         Penelitian Pendidikan Islam
ISBN                     :         978-0-415-87976-7 (hbk)
                             :         978-0-203-81776-6 (EBK)
Bahasa                 :         Inggris
Tempat Terbit      :         New York  
Diterbitkan
         :         Tahun 2011
Penerbit Buku      :         Penerbit Routledge & e-Library Taylor & Francis
Jumlah Halaman  :         208 Halaman

B. Daftar Isi Buku
Introduction……………………………………………………………………............….1
  1. Struggling for Control: Indoctrination and Jihad …………………….............. 12
  2. (De)constructing an Indoctrinatory Tradition…………...........................…...... 28
  3. Indoctrination in Formal Education: The Case of Pondok Pesantren Islam Al Mukmi………………………………..................................................................... 43
  4. Indoctrination in Non-formal and Informal Education: The Case of Jemaah Islamiyah ………...............................................................……………………….………...... 62
  5. Weaving a Different Net: An Educative Tradition …………...................…….. 76
  6. Islamic Schools in Indonesia: Islam with a Smiling Face? ……...............…….. 91
  7. Whither Religious Pluralism, Strong Rationality, and Strong Autonomy? ………………………………………………………............................................. 114
  8. Beyond Indoctrination: Towards Educative Muslim Traditions …................  129

Conclusion ……………………………………..............................……………....…….. 144
Notes  …………………………………………………................................…….……… 151
Bibliography …………………………………………............................………………. 187
Index ……………………………………………………............................……………. 201


Introduction (Pendahuluan)[1]
Dalam pendahulunan Charlene Tan menjelaskan kata kunci dalam memahami bukunya yaitu pengertian dari : Islam, Pendidikan Islam, Muslim, Tradisi Muslim, Terorisme dan Militansi, Islamisme dan Jihad.
Dengan memahami kunci di atas penulis ingin menjelaskan hal-hal sebagai berikut “saya akan memesan pembahasan rinci indoktrinasi untuk beberapa bab berikutnya. Tapi saya ingin membuat dua poin dari klarifikasi tentang indoktrinasi di sini. Pertama, sementara indoktrinasi dan militansi (dan terorisme) terkait, mereka tidak digunakan secara sinonim. Tidak semua militan muslim menjadi korban indoktrinasi, dan tidak semua diindoktrinasi. Muslim akan beralih ke militansi. Studi kami melampaui isu-isu militansi, terorisme, dan masalah keamanan kepada pertanyaan mendasar indoktrinasi. Pertanyaan-pertanyaan ini meliputi: apa yang indoktrinasi, bagaimana, apakah indoktrinasi terjadi, apa kondisi untuk indoctrinatory tradisi eksis dan berkembang, dan bagaimana kita bisa menghindari dan kontra Indoctrination.
Kedua, bahwa saya telah terletak diskusi kita indoktrinasi dalam konteks Islam tidak berarti bahwa indoktrinasi adalah "Islam masalah "atau hanya Muslim bisa diindoktrinasi. Saya telah memilih untuk  fokus pada Muslim daripada, katakanlah, Kristen, Konghucu, Hindu atau karena persepsi saat ini bahwa sejumlah militan Muslim dan siswa dari sekolah-sekolah Islam adalah korban indoktrinasi. Sementara fokus saya adalah pada pendidikan Islam, kesimpulan saya pada indoktrinasi akan berlaku untuk pendidikan dalam agama-agama lain juga.
Setelah mengenal diri kita sendiri dengan masalah indoktrinasi dan definisi istilah kunci, mari kita lanjutkan untuk membongkar makna indoctri bangsa dalam bab berikutnya[2].”
  

  1. Struggling for Control: Indoctrination and Jihad [3]( Berjuang Pengendalian:Indoktrinasi dan Jihad)
Pada pembahasan ini penulis berusaha untuk menjelaskan pengertian dari indoktrinasi dan jhad dimana penulis menjelaskan
  1. Kontrol keyakinan[4]; Kontrol keyakinan adalah keyakinan inti yang kita peroleh dalam proses alami enkulturasi, pendidikan, sosialisasi, dan interaksi dengan orang-orang dan alam. Sementara semua manusia terus untuk mengontrol keyakinan (kecuali orang tersebut adalah perkembangan menantang), orang-orang yang diindoktrinasi terus untuk kontrol mereka keyakinan berbeda . Dengan kata lain, cara di mana sebuah indoktrinasi per-anak memegang keyakinan kendalinya set nya terpisah dari seseorang yang tidak indoctrinated.
  2. Psikologi Keyakinan yang kuat[5]; Secara psikologis kuatnya keyakinan adalah mereka yang dihargai dan integral kehidupan seseorang dan pribadi identitas. Mereka biasanya memeluk tanpa pertanyaan dan paling tahan terhadap berubah. Sementara semua keyakinan kontrol dianggap sebagai psikologis yang kuat, mereka tidak memiliki kekuatan psikologis yang sama. Beberapa keyakinan kontrol diadakan .lebih kuat daripada yang lain dalam arti bahwa mereka dianggap sebagai yang paling important bagi orang dan membentuk inti dari keberadaan dan identitasnya. Sebuah taat Buddha, misalnya, cenderung menghargai keyakinan agama pada intinya karma (Doktrin penyebab moral) dan reinkarnasi lebih dari nya dasar politik keyakinan bahwa demokrasi parlementer adalah bentuk pemerintahan terbaik. Untuk lebih memahami kekuatan psikologis keyakinan kontrol, kita perlu melihat bagaimana keyakinan berhubungan satu sama lain dalam suatu sistem kepercayaan. Keyakinan tidak diperoleh dan tidak berfungsi dalam isolasi; bukan mereka ada sebagai kelompok atau jaring keyakinan saling bertautan. Ketika seseorang mencoba untuk memahami dan menilai situasi, kelompok keyakinan diaktifkan dengan keyakinan fungsi sebagai keyakinan kontrol, keyakinan data atau kepercayaan data latar belakang. Totalitas dari kelompok keyakinan membentuk sistem kepercayaan seseorang. Apa yang kemudian menentukan kekuatan psikologis keyakinan kendali.
  3. Kontrol Keyakinan dan Indoktrinasi[6]; Mari kita menerapkan apa yang telah kita pelajari tentang keyakinan kontrol untuk indoctri bangsa. Orang yang diindoktrinasi adalah orang yang memegang keyakinan kekuasaannya di tiga cara yang saling berhubungan yang berbeda dari non-diindoktrinasi peranak.
Pertama, orang yang diindoktrinasi berpegang pada jumlah yang sangat kecil kontrol keyakinan. Jumlah kecil dijamin dengan menghapus semua rangsangan eksternal yang memiliki potensi yang akan diselenggarakan sebagai keyakinan kontrol dengan korban. Buatan lingkungan dikenakan di mana korban, biasanya terisolasi dari keluarganya dan masyarakat, terkena hanya keyakinan istimewa oleh indoctrinator. Keyakinan kontrol yang dipilih biasanya dinyatakan dalam abstrak dan metafisik seperti "Tuhan", "kebenaran", "kebebasan", dan "kemajuan". Mereka selanjutnya diwakili rapi dalam biner "untuk kami atau melawan kami" pandangan dunia. Dipercayakan dengan otoritas absolut, ini keyakinan sederhana dan sederhana berfungsi untuk menjamin bahwa hanya sejumlah pilih keyakinan adalah (dan harus) istimewa dan ditanamkan.
Perbedaan kedua antara orang diindoktrinasi dan orang yang tidak diindoktrinasi terletak pada sejauh mana keyakinan kontrol menanamkan kematian dalam lanskap kognitif nya. Keyakinan kontrol dari indoktrinasi orang begitu tertanam dan diselenggarakan sedemikian psikologis yang kuat cara yang mereka telah dijajah lanskap seluruh kognitif nya. Mereka buka dan menyensor masukan baru yang menantang atau tidak sesuai dengan yang ada mengontrol keyakinan dengan membentuk keyakinan baru untuk menolak mereka, seperti "ini adalah dari setan "atau" hanya belum diselamatkan / berdosa / orang bodoh berpikir seperti itu ". Unsur prisingly, orang mengembangkan afinitas intens dan lampiran untuk "Kami" dan permusuhan yang sesuai dan kebencian terhadap "Mereka". Dengan menyalurkan semua  energi untuk diri mereka sendiri, keyakinan kontrol ini membentuk identitas orang tersebut dan mengendalikan seluruh hidupnya, membuatnya menafsirkan segala sesuatu melalui pandangan keyakinan kontrol.
Perbedaan ketiga adalah bahwa keyakinan kontrol non-diindoktrinasi orang tetap, untuk berbagai tingkat, terbuka untuk meragukan dan revisi ketika disuntik dengan ide-ide yang bertentangan dan bukti yang bertentangan. Tapi ini bukan kasus untuk orang diindoktrinasi: seperti keyakinan kendali seseorang keras kepala menahan tantangan eksternal dan bahkan mendistorsi kenyataan dengan menyaring semua stimuli yang masuk dan menafsirkan informasi baru sejalan dengan dan dukungan kepercayaan kekuasaannya.
  1. Keyakinan Kontrol : contoh Jihad; Secara harfiah berarti "perjuangan" atau "berusaha", jihad secara umum didefinisikan sebagai melakukan yang terbaik untuk menegakkan hukum-hukum Allah, menyebarkan dan membangun itu. Arti umum ini tidak boleh disamakan dengan perjuangan bersenjata atau  perang. Di Indonesia, negara yang terkenal dengan bentuk toleran dan inklusif Islam, banyak Muslim berbicara tentang jihad sebagai memberikan yang terbaik bagi Allah. Contoh jihad keras adalah jihad imam samudra dan teman-temannya.
Perbedaan pendapat dan perdebatan di kalangan umat Islam tentang jihad mengungkapkan kontras keyakinan kontrol di tempat kerja di masing-masing tradisions. Ingat bahwa tradisi jihad adalah wacana yang berusaha untuk menginstruksikan sebuah komunitas Muslim pada formulir yang benar dan tujuan jihad. Sebuah tradisi jihad adalah suatu proses sosial historis terletak konstruksi makna bersama jihad melalui teks (Qur'an, hadits, dan tulisan oleh para sarjana Muslim klasik) dan konteks (formal, non-formal, dan pendidikan informal dari para pemimpin agama, anggota keluarga, dan masyarakat). Daripada satu tradisi jihad homogen, ada tradisi jihad yang berbeda dan bersaing di berbagai Muslim komunitas , masing-masing dengan identitasnya sendiri, sejarah, lintasan, dan perjuangan. Oleh karena itu seharusnya tidak mengejutkan kita bahwa konsep jihad hari ini tetap diperebutkan oleh Muslim (dan non-Muslim) dari berbagai tradisi.
Ini adalah pelajaran untuk dicatat bahwa tidak ada konsensus di antara ulama tentang hubungan antara pencucian otak dan indoktrinasi. Di satu sisi, ada peneliti yang berpendapat bahwa cuci otak berbeda dengan indoktrinasi, atas dasar bahwa mantan harus melibatkan paksaan. Hal ini diyakini bahwa mencuci otak seperti indoktrinasi, sejalan dengan strategi pemaksaan seperti  isolasi ditegakkan, interogasi, obat-obatan, dipaksa pengakuan, dan self kritik, disertai dengan serangan emosional seperti kecemasan mendorong, ketakutan, dan bahkan gangguan mental.
Namun, sementara saya setuju cuci otak yang biasanya koersif (karena yang asosiasi dengan cuci otak Komunis China tawanan perang), indoktrinasi mungkin memaksa juga. Saya setuju dengan Robert S. Baron yang kita harus membedakan dua jenis indoktrinasi: bentuk sukarela (untuk Misalnya, merekrut anggota untuk bergabung dengan kelompok kultus) dan bentuk koersif (untuk Misalnya, memenjarakan tawanan perang).
Selain itu, tidak benar bahwa strategi pemaksaan seperti kekerasan fisik hanya digunakan dalam pencucian otak dan tidak dalam indoktrinasi. Seperti yang ditunjukkan sebelumnya, indoktrinasi mungkin dicapai melalui metode seperti stres fisik dan teratur setiap hari jadwal kegiatan. Singkatnya, indoktrinasi yang efektif memerlukan perpaduan cerdas kognitif, afektif, dan teknik manipulatif fisik yang saling memperkuat satu sama lain. [7] lihat


[1] Halaman. 1- 11
[2] Halaman 10 - 11
[3] Halaman 15  -31
[4] Halaman 17
[5] Halaman 21
[6] Halaman 23
[7] Halaman 29