Tanah Pakpak.. Tanah Leluhur

FENOMENA TAMAN WISATA IMAN DI KAB. DAIRI SEBAGAI SIMBOL KERUKUNAN BERAGAMA DAN MEMBANGUN MASYARAKAT MAJEMUK DI SUMATRA UTARA

Pengantar

Kabupaten Dairi adalah salah satu kabupaten yang ada di Propinsi Sumatra Utara yang terletak di sebelah barat danau Toba. Sejauh mata memandang di Dairi terbentang barisan bukit yang membentuk pemandangan indah dan mempesona.Selain panorama indah, sejak lama tanah Dairi terkenal sebagai sentra penghasil kopi di Indonesia. Hasil pertanian lain adalah jagung, bawang, tomat, kentang, nenas padi, teh dan lain-lain.sedangkan salah satu primadona hasil hutan adalah kemenyan yang tiada duanya didunia.
Dari Jumlah penduduk masyarakat Dairi yang multi etnis juga sangat kondusif dengan banyaknya para pendatang selain dari suku batak banyak juga dari suku luar Sumatera Utara baik itu suku jawa, aceh, keturunan tionghoa, padang dan lainnya.
Maka oleh karena itulah  sewajarnya bila multi enis, multi budaya dan agama di Propinsi Sumatera Utara khususnya di Kab. Dairi lebih kondusif dibanding dengan kabupaten lainnya. Ini terlihat penerimaan suku asli yaitu suku Papak di kabupaten Dairi yang punya peran besar dalam pembauran dan penerimaan mereka para perantau yang menetap di wilayah Kab. Dairi sebagai pemegang tanah ulayat di kota Sidikalang sekitarnya.
Bagi kaum intlektual, pluralisme bukanlah wacana baru. Banyak wacana mengenai hal ini yang telah dituliskan dalam bentuk buku ataupun artikel. Namun dari sekian banyaknya wacana tersebut, belum ada pemahaman yang kongkrit atau kesepakatan mengenai hal ini, terlebih ketika menyangkut wacana-wacana sosia-religius kontemporer. Artinya, pluralisme masih bias oleh wacana lain dalam bentuk ketakutan-ketakutan dari dari absolutisme ( Baca: agama), juga dalam wacana humanisme atau sosialisme yang ekstrim. Namun bagi kaum awam atau masyarakat pada umumnya, pluralisme haruslah berada didalam praksisinya, dengan mewujudkan sikap saling menghargai pada setiap agama, dan terbuka untuk saling dialog. Wacana Pluralisme dibutuhkan selama wacana tersebut membangun masyarakat kearah sikap saling menghargai satu sama lain.
Bila kita lihat Sumatera Utara bukanlah daerah konflik seperti yang pernah terjadi di Poso maupun di Ambon yang seolah olah bernuansa agama. Namun bukan berarti pluralisme tidak perlu dimasyarakatkan kepada masyarakat Sumatera Utara. Pluralisme bukanlah sebuah fungsi didalam pragmatisme itu sendiri. Pluralisme haruslah bersifat deduktif, terlebih ketika menyangkut multiagama di Sumtera Utara. Dari data statistik yang di kumpulkan Kantor Gubernur Sumatera Utara. Mayoritas penduduk Sumatera Utara beragam Islam sebanyak 8.271.373,7748 jiwa (65%), diikuti Kristen Protestan sebanyak 3.365.6981028 jiwa (26,62%) Katolik  604.359, 0132 jiwa (4,78%0 Budha 356.546,5308 jiwa, Hindua 24.022,6386 jiwa (0,19%) dan agama lainnya 17.700,8916 jiwa (0,14%).
Dari data yang terhimpun diatas maka perlu pengelolaan masyarakat yang majemuk diwilayah Sumatera Utara sehingga tidak mengadung potensi konflik atau pertikaian ( Clash). Artinya perbedaaan agama menjadi sebuah keniscayaan dalam masyarakat majemuk dan tentunya membawa kita pada nilai perbedaaan. Pluralisme adalah sikap dari cara pandang agar kita senantiasa membawa masyarakat  heterogen menuju masyarakat madani dan mampu memahami, menjembatani, segala perbedaan. Selama ini, pertikaian agama terjadi ketika perbedaan dari yang partikuler tersebut dibawa kedalam nilai-nilai eksklusif, sehingga tidak terjai bentuk pengakuan akan particular lainnya (baca : agama).Agama lain berada didalam paradigma yang menakutkan dan mengancam, atau dengan kata lain, eksistensi hadir dari resistensi terhadap yang lain.Realitas mengenai kemajemukan agama hanya dipandang sebagai bentuk untuk menegakan monoteismenya. Fanatisme,Radikalisme,Fundamentalisme adalah fenomenanya.
Pluralisme tidak menghendaki yang demikian. Kehadiran agama menjadi nyata justru ketika terjadi perjumpaan-perjumpan didalam kemajemukan yang sifatnya pro-eksistensi dan penghargaan kepada perbedaan yang ada. Setiap agama yang  ada hendaknya saling menghargai keberadaan agama lain, dengan demikian tidak memaksakan pikirannya kepada agama lain. Adalah menjadi suatu kebutuhan, yaitu sikap untuk saling menghargai dintara agama-agama, sehingga pluralisme ingin menegaskan kerukunan didalam kemajemukan. Dalam hal ini, terdapat keyakinan dari setiap agama didalam nilai perenialnya akan wujud mengasihi manusia terhadap sesamanya, tanpa memandang segala perbedaan yang ada.
Perbedaan-perbedaan bukan lagi dipertegas melainkan didialogkan. Pluralisme menyingkirkan sikap eksklusif didalam setiap agama, tetapi mengafirmasikan inklusifime. Sikap Inklusif menghadirkan perjumpaan-perjumpaan dari setiap agama. Kehendak  untuk mau terbuka terhadap perbedaan, pengakuan terhadap perbedaan lainnya, adalah bentuk yang inheren didalam inklusifisme. Perjumpaan-perjumpaan dari setiap agama itu kemudian menghadirkan dialog dari setiap agama, tanpa mencari kesalahan-kesalahan dari agama lainnya. Saya sepakat dengan Hans Kung didalam pengertiannya tentang dialog, bahwa dialog justru terjadi bagi orang-orang yang beragama.¹
Isu Pluralisme sebenarnya bukan hanya menyangkut wilayah Sumatera Utara melainkan juga masalah Indonesia, bahkan global. Efek-efek pertikaian yang sepertinya mengatas-namakan agama membuat plurlisme harus dapat menjadi “ problem-solution”. Kenyatan atau relitas didalam kemajemukan agama haruslah menjadi titik tolak didalam kemampuan fragmentasi ruang atau kemampuan melipat-gandakan rung kontak terhadap yang lainnya. Dialog bukanlah ajang untuk mencari agama siapa yang benar, atau juga sebagi bentuk “transaksi” didalam ruang kesakralan agama-agama.


           

 






__________________________
¹. Pemahaman Hans Kung mengenai dialog dimengerti dalam dua hubungan mengenai sifat kritisnya, yaitu ad intra (kedalam) dan ad ekstra (keluar). Kedua hal ini berdasar didalam logika “I understand so that I can believe”. Lihat leonar widler,(ed), consensus in Theology? A Diialogue With Hans Kung and Edward Schillebeeckx, Philadelphia: The Westminster Press, 1980, hlm.146.
Fenomena TamanWisata Iman sebagai penguatan  umat Islam di Kabupaten Dairi.

Melihat latar belakang pembangunan Taman Wisata Iman  memang tidak terlepas dari sebuah program yang dicanangkan Pemerintah Kabupaten sebagai salah satu penarik wisataawan di bawah naungan Departemen Parawisata. Namun demikian Penulis lebih melihat dari aspek yang luas yakni  sebagai melipat-gandakan ruang kontak  bagi masyarakat yang lainnya. Selanjutnya kita bisa melihat bahwa peran dari Departemen Agama Kabupaten dalam perkembangan pengelolaannya tidaklah maksimal, dan bersinergi, dikarenakan hanya masalah proyek pengelolaan dan anggaran  hanya tanggung jawab Pemerintah Kabupaten. Sehingga Pegawai yang ditugaskan sebagai PNS tidak terkoordinasi dengan Departemen Agama Kabupaten.
Maka oleh karena itu penelitian diarahkan ke aspek sosial kemasarakatan di wilayah kabupaten Dairi. Serta bagaimana Pengaruh pengunjung Ditaman wisata iman kab dairi sebagai Penguatan Keberagamaannya. bagaimana TWI bukan saja sebatas symbol penguatan kerukunan umat beragama yang di kemas dalam ojek wisata tetapi juga berdampak pada terbukanya ruang dialogis agama-agama antara para penganutnya. Hal ini penulis mencoba dengan pemahaman Fenomenologis Agama di tengah masyarakat kabupaten Dairi, dan selanjutnya terjun langsung meneliti bahwa aspek yang terpenting adalah :
1.      Penguatan Landasan Keimanan internal bagi Umat Islam bahwa dengan landasan tersebut maka dengan terbukanya dialog agama maka akan lebih memantapkan keyakinannya
2.      Kedewasaan berpikir Positif.. bahwa dialog agama bukan menyamakan agama agama apalagi menyingkirkan agama lainnya.
3.      Tokoh-tokoh agama menjembatani dan memberikan pencerahan pada masyarakatnya.
Dari ketiga poin tersebutlah maka dilihat bahwa di Kabupaten Dairi mempunyai kesiapan dan kemampuan untuk lebih kondusifnya hubungan dialog antar agama sehingga menjadi percontohan untuk wilayah Indonesia lainnya.
     

Share this article :
+
Previous
This is the oldest page
0 Komentar untuk "FENOMENA TAMAN WISATA IMAN DI KAB. DAIRI SEBAGAI SIMBOL KERUKUNAN BERAGAMA DAN MEMBANGUN MASYARAKAT MAJEMUK DI SUMATRA UTARA"