Tanah Pakpak.. Tanah Leluhur

Islam Post Liberal ?



www.blogger.com/profile/13203216328167571232


Sering kita mendengar kata Islam liberal, namun belakangan ini mencuat kepermukaan yang baru yaitu istilah Islam Post Liberal. Penggagasnya adalah Sumanto Al Qurtuby (36 th) Islam Post Liberal ini merujuk pada menempatkan ide-ide universal kemanusiaan diatas segala-galanya. Gagasan ini berbeda dengan gagasan yang dikembangkan kalangan Islam Liberal atau islam progresif. Islam Post Liberal melampaui gagasan normatif keagamaan dan ketuhanan.. Nilai-nilai kemanusiaan mengatasi nilai-nilai ketuhanan. Jalan Keselamatan bukan monopoli kaum agama, melainkan juga kelompok ”Non Agama” memandang bahwa tafsir heremeneutik tidak cukup untuk memahami misteri, sejarah, fenomena dan wacana keagamaan masa lampau. Paparan Sumanto ini di ekspose di harian Kompas 28 januari 2012 menyatakan bagaimana islam post liberal menuntut satu penjelasan menyeluruh tentang pengalaman teologis agama-agama lain.Sebagaimana halnya ia langsung berbaur dengan komenitas mennonite Amerika tahun 2005-2007 Kristen ”illiberal” dalam pemahaman keagamaan dan wawasan teologisnya Tanpa sengaja hidup bersama kelompok Mennonite Amerika ini, bagi Sumanto, memberikan kontribusi semangat dialogis yang sudah dikembangkan semasa sebelum menempuh kandidiat MA dan doktor di AS. Pengalamannya menyaksikan nestapa Amerika serikat saat diguncang bom gedung WTC As 11 september 2001, mengingatkan Sumanto seorang Cendikiawan Muslim Mesir, Dr. Taufik Hamid. Dua puluh lima tahun sebelumnya, Taufik Hamid seorang ekstrimis dan teroris yang bergabung dalam Alqaeda. Tetapi karena menyaksikan teman-temannya melakukan tindakan tidak terpuji ia berbalik arah. Dia angkat bicara, ” kekerasan bukanlah jawaban untuk mencapai satu tujuan” kalau islam ingin dihargai dihormati agama orang lain hargailah dan hormatilah orang-orang yang berbeda kepercayaan. Kemudian Taufik Hamid menyatakan” Saya seorang Islam dalam iman, seorang kristen dalam semangat, seorang jahudi dalam hati. Dan diatas semuanya saya seorang manusia. Ahmad Safii Maarif menggolongkan Sumanto sebagai pemikir muda muslim yang gelisah. Perintah tegaknya nilai-nilai kebebasan, keadilan dan kemanusiaan dimuka bumi bagi Sumanto merupakan pesan inti semua agama, apalagi islam, namun demikian pesan-pesan diatas yang sering dilumpuhkan oleh rezim-rezim yang menggunakan payung islam. Kondisi itulah yang menjadi keprihatinan dan kegelisahannnya. Pemikiran Sumanto ini pasti akan menyulut kontraversi yang kuat dikalangan islam sendiri namun bagaimanapu kita hendaknya berkepala dingin menyikapinya, sebagaimana juga ketika pro-kontra Jil misalnya, sangat-sangat banyak kecaman dari kalangan tokoh agama maupun umat kepada Ulil Absar Abdala.

Jika kita runut kebelakang ada beberapa orang ahli yang mencoba menyelidiki sampai sejauh manakah pengaruh agama memotivasi aktivitas kehidupan masyarakat atau individual dalam hidupnya. Meskipun motif penyelidikan pada jaman kejaman dari jaman yang sama maupun yang berbeda, namun tujuannya juga bisa berbeda pula.
Bertitik tolak dari hipotesa, bahwa kehadiran suatu agama kedalam satu masyarakat bukan saja merupakan suatu milik pribadi yang mampu melonjakkan pribadi tersebut kedalam alam akhirat yang teramat ideal, akan tetapi juga karena pengaruh suatu kehadiran agama juga berhasil mengimplikasi pada stratifikasi sosial, pergeseran pergeseran serta tingkah laku kongkrit pada dinamikanya kehidupan suatu masyarakat dalam wujudnya yang riil dan nyata.
Dari sini gambaran yang diperlihatkan relatif lebih jelas. Bahwa betapa kehadiran suatu agama kedalam suatu bangsa ataupun suatu masyarakat, individu tertentu akan memiliki potensi implikasi positif terhadap bangsa, masyarakat, individu yang menjadi penganutnya. Bahwa pada gilirannya sistim nilai yang dimamahkannya produk penyajian agama akan mampu memotivasi penganutnya untuk berjuang secara lebih dahsyat, ulet sabar, serta memiliki kontinuitas dan optimisme.


Share this article :
+
Previous
Next Post »
0 Komentar untuk "Islam Post Liberal ?"