Tanah Pakpak.. Tanah Leluhur

Pertanian Muslim yang Revolusioner


Kajian tentang Medis - Botani telah diproduksi sejak awal peradaban manusia, adanya catatan dari mesir, Mesopotamia, Cina dan India mengindikasikan tradisi yang ada sebelum manusia menemukan tulisan. Sebaliknya, tidak ada bukti-bukti semacam itu di Barat, Misalnya istilah atau kata Herbal justru pertama kali muncul dalam bahasa Yunani pada abat ke 3 SM ditulis oleh crateuas di abad ke 1 masehi. Risalah pertanian ditulis dibarat pertama kali ditulis berupa ensklopedia Romawi karya Cato the Elder (234-149 SM) yang isinya tentang obat-obatan dan pertanian yang diberi judul ‘De Agricultura” namun karena disintegrasi kekaisaran romawi, dimana otoritas kerajaan tidak diakui lagi, reformasi terhadap feodalisme menyebabkan kekacauan, perkembangan pertanian menghadapi masa suram sampai datangnya Islam (pada abad ke 7 Masehi). 

Pada tahun 711 M, semua wilayah yang berada dibawah kekuasaan islam menikmati pembangunan ekonomi yang kuat sehingga menghasilkan kekayaan yang diperlukan untuk membiayai perlindungan wilayah yang membentang dari lembah Pyrenees (kawasan pegunungan dibarat daya eropa yang membentuk perbatasan alami antara Perancis dan Sepanyol) sampai perbatasan cina. Perlindungan atas karya intlektual merupakan factor kunci yang menopang perkembangan tersebut dan mengakibatkan berkembangnya budaya islam dan peradaban dunia muslim.

Peradaban islam ini menjadi momentum dalam menetapkan meskipun menghadapi ancaman invasi dan perpecahan internal yang terus menerus langkah besar dalam bidang pertanian, kedokteran dan ilmu pengetahuan, karenanya dengan tersedianya berbagai macam bahan baku dan methode yang mengolah bahan bahan tersebut untuk digunakan sebagai penyembuhan penyakit dan untuk meningkatkan gizi juga bisa digunakan.

Gerakan Besar dalam pertanian ini sangat tergantung pada usaha pemerintah pusat dalam mensponsori jaringan luas irigasi. Dikawasan timur dekat metode tersebut itu kurang menjanjikan. Disemenanjung Iberia tingkat substansi ekonomi pertaniannaya tidak berkembang. Setelah muslim memegang peran kendali atas kawasan itu, perlu diambil keputusan dalam menentukan tanaman mana yang penting untuk dikembangbiakan. 
Prediksi Soal Tes CPNS 2013

Untungnya keragaman botani arab sudah luas dan berkembang pesat, selama melakukan ekspansi atau berdawah menyerukan kalimat toibah, kaum muslimin menjumpai tanaman dan pohon-pohon yang sampai sekarang tidak diketahui namanya, sementara para pedagang juga kembali dengan membawa tanaman eksotis, benih dan rempah-rempah dair perjalanan mereka. Diantara tanaman seperti tebu, pisang dan kapas yang membutuhkan banyak air atau setidaknya musim hujan. Jadi untuk menumbuhkan mereka sistim irigasi buatan yang luas dibutuhkan. Irigasi buatan sebenarnya lebih dikenal kaum muslimin dibadning sistim rotasi tanaman dari tanah eropa yang dingin di mana perlu membiarkan tanah tidak ditanami selama beberapa lama, tujuannya untuk memulihkan, selama satu tahun tiga atau empat kali.

Namun, Irigasi buatan perlu dibangun dengan ketinggian tertentuuntuk menjamin aliran air secara terus menerus. Dalam hal ini, kaum muslim memiliki keuntungan dari kemajuan yang mereka capai dalam matematika sehingga memungkinkan dilakukannya pengukuran ketinggian yang akurat. Kaum muslimin tidak suka membuang waktu melakukan uji coba pertanian serampangan hasil maksimum mereka capai dengan belajar bagaimana mengindentifikasi tanah yang cocok dan dengan menguasai teknik mencangkok tanaman dan pohon.

Para ulama sendiri melakukan eksprimen mereka dan mengajar dimana-mana, termasuk di masjid- masjid dan ketika dimanapun sambil silaturahmi bahkan saat dipasar sekalipun Hal ini di perkuat dengan fakta bahwa pada abad ke 12 abad ini dipandang sebagai Zaman keemasan Islam dengan munculnya para ulama besar yang ahli dalam bidang Botani seperti :

1. Abu Abbas (Ibnu Rumiyyah) 1239 m
2. Ibnu Baytar 91197-1248 M) Tafsir kitab Diasquridus- Jamial Mufodat al adwiya wal agdiya
3. Al Ghafiqi (1166 CE) ” Mufradat al Kitab Jami” ( Materia Medica)
4. Ibnu Al Awwam Kitab tentang risalah pertanian Al filaha
5. Ibnu Bajja (w 1138M) kitab Al Nabat liber de Plantis translasi latin mendefenisikan jenis kelamin tanaman.

Karya Ibnu Baytar itu ditulis dalam bahasa Arab, barbar, Yunani dan Farmakope latin Sementara Albiruni memberikan sinonim nama obat dalam bahasa syiria, Persia, yunani, Baluchi, Afganistan Kurdi, India, dan lain lain.

Kemampuan Linguistik para ulama ini menunjukan mereka berniat menyebarkan pengetahuan diantara semua bangsa, seperti yang terjadi dengan distribusi kalender pertanian Cordoba pada abad ke 10. kalender Kordoba adalah Contoh dari Jenis informasi yang diberikan sebagai bantuan untuk pertanian.

Dengan demikinan dalam hampir satu abad penaklukan muslim dalam berda’wah, wilayah yang dibawah kendali muslim telah berubah sangat radikal dan tidak berlebihan jika menggambarkan proses trensformasi itu sebagai revolusi Pertanian Muslim. Unsur-unsur keberhasilan revolusi ini dapat diringkas sebagai berikut :


  1. Perluasan lahan yang bisa dimanfaatkan dengan membangun irigasi
  2. Penerapan teknik pertanian ditingkatkan berdasarkan informasi yang relevan di seluruh dunia
  3. Intensif berdasarkan dua prinsip yakni pengakuan kepemilikan swasta dan menguntungkan para petani dengan pangsa panen sepadan dengan upaya mereka.
  4. Teknologi yang lebih maju memungkinkan orang-orang seperti Baytar melakukan percobaan dengan menanam tanaman, ribuan kilometer dari asalnya dan yang sebelumnya tidak pernah bisa dibayangkan bisa tumbuh dala iklim semi gersang atau kering. Pengenalan dan iklimisasi ( Penyesuaian terhadap iklim tertentu) tanaman Baru dan pengembang biakan serta penyebaran ternak ke daerah dimana mereka sebelumnya tidak diketahui.
Tiada lain apa yang dikemukakan diatas menjadi pemicu bagi para pemerhati pertanian muslim agar melihat bahwa kemampuan kemampuan yang dilakukan para Ahli Botani Muslim sangatlah revolusioner perlu di perhatikan oleh akedemisi di Indonesia agar menjadi winwin solusi bagi umat manusia di seantero dunia.
Share this article :
+
Previous
Next Post »
0 Komentar untuk "Pertanian Muslim yang Revolusioner"