Tanah Pakpak.. Tanah Leluhur

Agresi Perbankan



Agresi Perbankan dalam produk Syariah
Kita melihat betapa percepatan pertumbuhan perbankan syariah di Indonesia begitu signifikan, kenyataan ini kita seharusnya senantiasa bersyukur dan terus menjaga agar pertubuhan itu menjadi kekuatan bagi bangsa Indonesia.
Namun semua itu tidaklah semestinya kita berpuas diri, masih banyak umat islam yang belum paham sistim perbankan syari’ah kita butuh kerja keras lagi sebagaimana ketika melihat petapa pangeran inggris putra charles berkunjung justru lebih apresiatif dan mengapresiasi masalah Perbankan syari’ah.
Begitu antusiasnya sehingga mereka mempromosikan sistim syariah di inggris cukup diterima di Negara Ratu Elishabeth tersebut. Lantas bagaimana dengan kita yang masih setengah hati dalm mengimplementasikan sistim syari’ah diIndonesia. Tegok saja artikel dibawah ini. Satu dari Bank BUMN
Bank Rakyat Indonesia (BRI) Syariah menargetkan pembiayaan sebesar Rp 7 triliun atau naik 133 persen pada 2010. Hingga 2009, BRI Syariah telah mengucurkan pembiayaan outstanding sekitar Rp 3 triliun.
"Tahun ini pembiayaan kami bisa naik menjadi Rp 7 triliun. Selain karena ekonomi sedang membaik, pasar perbankan syariah masih luas," kata Direktur Utama BRI Syariah, Ventje Rahardjo, dalam pers rilis yang diterima Republika, Selasa (2/3).Kendati banyak unit usaha syariah (UUS) yang akan spin-off menjadi bank umum syariah (BUS) tahun ini, Ventje menilai peluang untuk bersaing dengan bank syariah lain masih terbuka lebar. "Selain jumlah BUS yang akan bertambah, bank syariah juga harus terus memperbaiki kualitasnya," ujar dia.
Perbaikan kualitas itu dinilainya harus difokuskan pada pelayanan, produk yang setara dengan produk bank konvensional, dan peningkatan jumlah sumber daya manusia (SDM). Namun, ia tak setuju jika perpindahan SDM disebut aksi "bajak-membajak". Menurutnya, perpindahan itu hal yang wajar. Menurutnya, hal itu juga sering terjadi di perbankan konvensional.
Target agresif
Hingga kini, perseroan telah menghimpun dana pihak ketiga (DPK) hampir Rp 2 triliun. Ventje mengatakan, BRI Syariah menargetkan penambahan nasabah baru sekitar 50 ribu-100 ribu orang. Komposisi bisnis BRI Syariah merata di semua segmen, yaitu consumer banking, usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), dan komersial. "Segmen komersial itu besarnya separuh dari corporate. Masing-masing segmen sama rata komposisinya, sekitar 25-30 persen," jelas dia.Segmen yang dibidik saat ini, yaitu kredit pemilikan rumah (KPR) masuk dalam consumer banking sebesar 30 persen. Pada 2010, perseroan cukup agresif dalam menargetkan pembiayaan KPR, yaitu tumbuh 400 persen atau Rp 1 triliun.
Tahun lalu, total KPR BRI
Syariah baru mencapai Rp 200 miliar. Pada 2010, Asosiasi Pengembang Perumahan dan Pemukiman Seluruh Indonesia (APERSI) yang menaungi 19 Dewan Pembantu Daerah (DPD) dan 1.300 pengembang di seluruh Indonesia, berusaha menyediakan perumahan murah. Menurut data Kementerian Perumahan Rakyat dan Bappenas RI tahun 2010, kebutuhan perumahan dan backlog perumahan sekitar 7,3 juta buah.
"Perbankan sangat dibutuhkan peran sertanya untuk memfasilitasi kebutuhan ini. Kami memberikan pagu pembiayaan sekitar Rp 25 juta hingga Rp 3,5 miliar," jelas Ventje.Untuk menggenjot target tinggi ini, BRI Syariah meluncurkan fasilitas e-KOS untuk mengurangi waktu proses pengajuan dan pencairan kredit. Sistem ini dapat disinergikan dengan program-program pemerintah yang lain untuk pembiayaan perumahan pegawai negeri sipil (PNS).
Selain karena ekonomi sedang membaik, pasar perbankan syariah masih luas," kata Direktur Utama BRI Syariah, Ventje Rahardjo, dalam pers rilis yang diterima Republika, Selasa (2/3).Kendati banyak unit usaha syariah (UUS) yang akan spin-off menjadi bank umum syariah (BUS) tahun ini, Ventje menilai peluang untuk bersaing dengan bank syariah lain masih terbuka lebar. Kami memberikan pagu pembiayaan sekitar Rp 25 juta hingga Rp 3,5 miliar," jelas Ventje.Untuk menggenjot target tinggi ini, BRI Syariah meluncurkan fasilitas e-KOS untuk mengurangi waktu proses pengajuan dan pencairan kredit..

Dengan penjelasan Dirut tersebut nyatalah genderang persaingan yang sehat diIndonesia dimulai, namun sedikit sekali apresiasi dari Wakil Presiden kita tentang Perbankan Syariah padahal kita tahu wapres adalah mantan Gubernur Bank Indonesia seharusnya dan semestinya sang Wapres memberikan pemikirannya agar pertumbuhan perbankan Sistim Syari’ah di Indonesia lebih maju dimasa-masa akan datang.
Share this article :
+
Previous
Next Post »
0 Komentar untuk "Agresi Perbankan"