Tanah Pakpak.. Tanah Leluhur

ketahanan pangan bag. II

Ketahanan pangan lanjutan…
Apakah bisa kita katakan pembangunan di pedesaan secara keseluruhan di pelosok nusantara selain karena bencana adalah kegagalan, dan bagaimana agar cepat bangkit dengan potensi alam kita. Tentunya bercermin dengan Negara-negara lain dikawasan Asia. Negara seperti Thailand,Taiwan, Malaysia, Cina, dan lainnya menjadikan sektor pertanian adalah sebagai ”Motor” pengembangan sektor lainnya. Kita bisa lihat strateginya secara fundamental yaitu dukungan pembangunan infrastruktur pedesaan, mendukung pengembangan dan persebaran tekhnologi yang bermanfaat bagi petani kecil, serta menghindari diskriminasi sektor pertanian, dukungan pada perusahaan keluarga kecil menengah, menghindari sistim kredit bersubsidi. Dengan kebijakan diatas tentunya ada lonjakan pertubuhan siknifikan disektor pertanian, dan pengurangan tingkat penghasilan dipedesaan yang akhir terpuruk jatuh miskin.Yang terparah adalah gejolak pasar yang tidak menentu akibat pengaturan produksi lewat harga pasar tersebut. Dan tentunya tidaklah dapat kita mengenyampingkan adanya pemahaman bahwa kepercayaan pada perbaikan pendapatan petani lewat mekanisme pasar menjadi kebijakan stabilisasi dasar dari subsatansinya dan jaminan tidak digusur atau tergusur. Adalah contoh nyata bahwa kenaikan beras di pedesaan mengakibatkan makin terancamnya warga dipedesaan warga terancam kelaparan. Saya membandingkan ketika tahun 2005 harga beras dipasaran masih terjangkau seharga Rp.2200-3500 namun sekarang belum genap 6 tahun harga beras telah naik drastis harga beras berkisar 8.500-10.000. Di kabupaten Dairi sendiri harga beras terus melonjak dari 1 Kalengnya (16 Kg) saja biasa Rp.90.000. sekarang telah naik menjadi 130.000-145.000. itu harga dipedesaan bagaimana di kota-kota besar. Masih kuat dalam ingatan saya ketika didaerah Magelang terus menuju kaki pegunungan Merbabu didesa tersebut justru mereka masih memakan nasi jagung. Karena mahalnya harga beras. Semua Negara-negara didunia ini bertekad mengurangi angka kelaparan global dan menurut FAO sesuai data tahun 2005 masih ada 825.juta jiwa kelaparan maka dari uraian saya diatas maka secara riil makin meningkat angka kelaparan tersebut (masya Allah…!) apa lagi bila kita lihat angkanya 60-70% penduduk negeri ini adalah tinggal dipedesaan. Maka tidak tertutup kemungkinan setengahnya rawan pangan yang tentunya dari keluarga petani gurem (kecil).
Lantas bagaimana kita selaku pelaku konsumen pemakan beras alias nasi, hampir semua mengatakan dengan setuju perut orang Indonesia belum makan jika belum makan nasi. Bagaimana dengan anda apa demikian? Oleh karena itu seluruh komponen bangsa hendaknya peduli terhadap rawan pangan, sepertinya tidak masuk akal Negara kita begitu suburnya ternyata kita tidak mampu mengatasinya. Nah suatu kendala dan kebiasaan kita yang hidup nafsi-nafsi inilah yang sering melebar pada prilaku buruk, tengoklah betapa sikap kita yang sesungguhnya menggrogoti sendi-sendi sosial ekonomi menjadikan kita semakin terpuruk dan bahkan tidak ada lagi kepedulian antar sesama. Kita bisa melihat kenyataan dua pertiga petani kecil tergolong marginal (pinggiran) betapa sedihnya petani kita lahan mereka yang tandus, terisolasi letaknya akses jalan rusak (Infrastruktur) tidak ada jaminan hak atas tanah dan tidak ada penyaluran bantuan kredit, bagi hasil, ketergantungan pada pedagang antara dan hampir 30 persen tidak punya lahan pertanian dan bekerja sebagai buruh tani, nelayan musiman dan masih banyak yang menggantungkan dari hasil hutan. Maka saatnya Petani bangkitlah…Ketahanan Pangan atau hak atas pangan harus kita mulai sekarang juga walaupun ada yang tergusur namun kita hendaknya optimis selalu Allah akan menolong suatu kaum apa bila kaum itu mau merubahnya. Dan tentunya rezeki bersinerji dengan amalan yang kita kerjakan. Walau Perubahan sruktural dengan berupa komersialisasi sumber daya produktif, seperti lahan, air dan bibit serta anjloknya harga produk pertanian dan liberalisasi asimetris perdagangan pertanian, yang telah memperburuk kondisi kita. Kita pantang menyerah kita membuka kran dan menggugah pemerintah tanpa perubahan drastis kebijakan agar berpihak pada petani kecil dan pembangunan pedesaan, sekali lagi saya katakan pada Pemerintah permintaan agar Pemerintah Pusat agar Gubernur-Gubernur Walikota-walikota, Bupati-bupati dan Wakilnya dan Masyarakat Indonesia untuk sama-sama bekerja dan bekerja keras dalam meningkatkan ketahanan pangan, akanlah sia-sia kerena menjadi sekedar himbauan tanpa adanya arah dan pemihakan yang jelas. Akhirnya kita membuka era baru dalam menyongsong optimisme “Bangkitlah Petani dan Nelayan Indonesia” Njuah-juah banta karina (sehat-sehat kita semua!) semoga Allah meridhoi niatan dan langkah kita dimasa depan serta kita sebagai hamba dalam rangka beribadah kepadanya bukan kita menuhankan pertanian, jabatan kita dengan cara cara kesyirikan bahkan kita jauh dariNya.( Bersambung dengan Judul. Ketahanan Pangan ketahanan Iman)
Share this article :
+
Previous
Next Post »
0 Komentar untuk "ketahanan pangan bag. II"